kasih ibu
kepada beta
tak terhingga sepanjang masa
hanya memberi
tak harap kembali
bagai sang surya menyinari dunia
Bait lagu diatas yang dinyayikan keponakanku yang masih berumur 6 tahun secara terbata-bata tak sedikitpun mengurangi makna yang mengandung makna begitu dalam ini, seolah mengais-ngais ingatan dua puluh tahun yang silam di saat qu masih seusia ponakanku yang selalu di timang dan dimanja hingga allah memberi kesempatan kepadaku untuk bisa melanjutkan kuliah, nasehat demi nasehat “di jogo sholate nger, sing rukun karo koncone” dan masih banyak lagi nasehatmu yang akan tetap ku ingat sebagai bekal kehidupan ini. Nasehat itu tak pernah berhenti dari bibir yang mulia itu setiap bulan aqu pulang, dan disaat pulang itulah sekali lagi ibu selalu memberikan yang terbaik buat ku mulai masakan dan yang tak pernah lupa nasehatmu dan uang saku yang selalu ada (bagaimanapun kondisi saat itu yang tidak pernah beliau keluhkan).
Tak terasa sudah 7 tahun hal itu berlalu kebiasaan yang sulit ku hilangkan, aqu selalu sempatkan tiap bulan pulang karena rindu akan masakan buatan tangan beliau, nasehat, senyum , raut wajah beliau yang seolah menghilangkan seluruh kepenatan selama sebulan dan memberikan energi baru untuk bisa berbuat lebih baik. Dan Saatnya anakmu ini untuk berbagi padamu bunda…
Teriring Do’a dari ananda…
“Ya… Allah Ampunilah Dosa Qu Dan Dosa Kedua Orangtua Qu, Cintai dan Kasihanilah beliau berdua sebagai mana mereka mencintai dan menyayangiku diwaktu kecil (hingga sekarang)”